Pindahan Blog Baru

Buat Anda yang ingin membaca tulisan-tulisan terbaruku, Anda dapat membacanya di AgungWicaksono.com. Saya akan memposting blogku di alamat tersebut :) .

Beberapa hari lalu, salah seorang murid di sekolah tempatku mengajar sempat bertanya, “Saya udah punya ID di Yahoo, tapi sekarang saya lupa passwordnya. Gimana ya caranya supaya bisa masuk kembali ke Yahoo?”

Berangkat dari peristiwa tersebut, saya berpikir untuk membagikan langkah-langkah untuk mengatasi hal ini. Semoga berguna bagi rekan-rekan yang belum mengetahuinya :)

  1. Masuk ke halaman login email Yahoo ID.

    01-lupa-yahoo-password.jpg

  2. Klik “I don’t know my Yahoo ID”.

    02-lupa-yahoo-password.jpg

  3. Isikan data-data sesuai dengan saat dulu mendaftar di Yahoo, masukkan pula Yahoo ID Anda. Lalu, klik “Get new Password”.

    03-lupa-yahoo-password.jpg

  4. Jawab pertanyaan kunci, yang dulu kita pilih saat mendaftar di Yahoo.

    04-lupa-yahoo-password.jpg

  5. Bila berhasil, kita akan mendapakan password sementara dari Yahoo. Catatlah password ini, selanjutnya klik “Sign In and Change Your Password Now”.

    05-lupa-yahoo-password.jpg

  6. Berikutnya akan tampil halaman ’sign-in’ dari Yahoo. Masukkan ID kita dan password sementara yang diberikan Yahoo di langkah sebelumnya.

    06-lupa-yahoo-password.jpg

  7. Saatnya kita dapat merubah password sementara dari Yahoo ini dengan password yang sesuai dengan keinginan kita.

    07-lupa-yahoo-password.jpg

  8. Nah, kita telah berhasil mengganti password kita. Sehingga, untuk selanjutnya kita dapat ’sign-in’ di Yahoo dengan password kita.

    08-lupa-yahoo-password.jpg

Dalam pembelajaran Java, pilihan penerapan antara ‘abstract class‘ dengan ‘interface‘ terkadang membingungkan. Kapan lebih tepat mengimplementasikannya dengan ‘abstract class’? Dan kapan sebaliknya? Aku sendiri belum benar-benar mengerti hal ini. Kebetulan, saat mencari informasi tentang hal ini, aku menemukan blognya Mahesh Singh (Gang of Rocking Objects – GRO) yang bagus untuk dijadikan salah satu panduan. Semoga lewat tulisan ini, ada sebersit pencerahan :) .

Artikel Mahesh mencoba menjelaskan konsep yang menurutku abstrak ini dengan contoh nyata. Dalam hal ini, dia mengambil contoh yang ditemui dalam pembuatan Content Management System (CMS). Yang mana, kita tahu, salah satu bagian dari CMS biasanya terdapat class Content yang berisi class Article, Blogs, dan Review.

Contohnya, dalam menentukan jenis class Content pada CMS (antara ‘normal class’, ‘abstract class’, atau ‘interface’), dia memberikan panduan langkah-langkah yang mudah dicerna:

  1. Menentukan terlebih dahulu apakah class yang mau dibikin adalah ‘normal class’ atau bukan. Petunjuknya: bila class ini merupakan entitas pokok (core entity) dari business logic, maka class ini adalah kandidat kuat ‘normal class’.
  2. Kalau bukan, selanjutnya kita tentukan apakah merupakan ‘abstract class’ atau ‘interface’. Beberapa petunjuk:
    -. Jika class ini mempunyai ‘default behavior’ yang harus diterapkan pada seluruh subclassnya, maka jenis class ini sebaiknya adalah ‘abstract class’.
    -. Bila hubungan antar class bersifat ‘multiple inheritance’, maka dapat dipastikan class tersebut adalah ‘interface’.
    -. Salah satu acuan yang juga bisa dipakai adalah apakah relasi antar class ini ‘IS A’ atau ‘CAN DO’. Bila relasinya adalah ‘IS A’ berarti class ini adalah ‘abstract class’, dan sebaliknya bila relasinya ‘CAN DO’.

Bisa jadi, apa yang kutulis di atas kurang tepat. So, CMIIW :) .

Catatan: artikel lain yang nampaknya juga cukup bagus, dapat dbaca di JavaWorld dan Canadian Mind Products.

Cara Instalasi Ubuntu

Buat yang ingin mencoba dan beralih ke Linux Ubuntu, ada panduan yang cukup bagus dalam proses instalasinya. Panduan ini ditulis oleh Mahyuddin Susanto, silakan klik di sini.

Selamat mencoba dan memasuki dunia Linux Ubuntu!

Versi Rilis Ubuntu

Salah satu hal yang tidak kusadari saat pertama menggunakan Linux Ubuntu adalah versi rilisnya yang berbeda dari kebanyakan software yang lain. Bila software yang lain menggunakan penomoran mayor dan minor. Di mana, perubahan nomor mayor biasanya mengindikasikan adanya perubahan fungsionalitas dari software tersebut yang cukup besar dan esensial. Sedangkan, nomor minor mengindikasikan perubahan yang tidak terlalu mendasar. Misalnya, software X dengan versi 3.2, berarti software tersebut nomor mayornya adalah 3 dan nomor minornya adalah 2. Dan bila ada perubahan minor, maka versi software X ini akan menjadi 3.3.

Pada versi rilis Ubuntu, nomor mayornya menunjukkan tahun di mana Ubuntu tersebut dirilis. Sedangkan nomor minor, menunjukkan bulan di mana ia dibuat. Hingga saat ini, telah ada 6 rilis versi yang stabil dari Ubuntu, yaitu*):

  1. Ubuntu 4.10 (The Warty Warthog): Oktober 2004
  2. Ubuntu 5.04 (The Hoary Hedgehog): April 2005
  3. Ubuntu 5.10 (The Breezy Badger): Oktober 2005
  4. Ubuntu 6.06 (The Dapper Drake): Juni 2006 rilis ini mendapat Long Term Support dari Canonical
  5. Ubuntu 6.10 (The Edgy Eft): 26 Oktober 2006
  6. Ubuntu 7.04 (The Feisty Fawn): 19 April 2007
  7. Ubuntu 7.10 (The Gutsy Gibbon) ==> rilis berikutnya

*) sumber: Wikipedia Indonesia

Buatku, penomoran seperti ini lebih mudah diingat dari sisi tanggal rilisnya :-) .

Distro Linux

Bagi yang baru atau belum mengenal Linux, seringkali heran mengapa harus ada distro Linux yang bejibun. Kadang juga muncul kebingungan perbedaan antara ‘Linux’ dengan ‘distro Linux’. Nah dalam tulisan ini, kita mau singgung sedikit pengertian antara keduanya.

Sistem Operasi
Bila bicara tentang Linux, berarti sebenarnya kita bicara tentang sistem operasi. Sebagaimana Windows atau Apple MacOS X, Linux adalah sistem operasi. Di mana, sistem operasi dapat dibayangkan sebagai kumpulan software yang berjalan di ‘balik layar’ alias tidak terlihat oleh penggunanya. Sistem operasi ini yang mengendalikan komputer, mengatur komunikasi dengan perangkat seperti printer, mengatur jadwal-memulai-memberhentikan program aplikasi yang ada, dsb. Dan dari sini terlihat, meski prosesnya di ‘balik layar’, namun perannya begitu vital. Sehingga kita dapat menyebutnya sebagai perangkat lunak sistem (system software).

Kernel dan Program Aplikasi
Bagian inti, terpenting, dan merupakan pondasi dari sistem operasi adalah kernel. Karena segala sesuatunya dibangun atas layanan dasar yang disediakan kernel ini. Yang selanjutnya, dari kernel dan perangkat lunak sistem lainnya, akan terbangun sistem operasi.
Hanya saja, pengguna komputer tidak mempedulikan kernel. Pengguna awam komputer hanya mempedulikan ada tidaknya program aplikasi yang berguna baginya. Sebagai contoh, program aplikasi untuk mengolah kata, mengedit gambar, memainkan musik, mencetak dokumen, dsb. Boleh dikata, entah ada kernel atau tidak, yang penting komputer dapat digunakan dengan baik dan mudah.

Nah, setelah membaca sedikit penjelasan di atas, kita sekarang kembali ke pokok persoalan…

Linux dan Distro Linux
Secara teknis, yang dimaksud Linux adalah kernel dari sistem operasi Linux itu sendiri. Sedang distro Linux adalah sistem operasi Linux + sekumpulan program aplikasi + sekumpulan perangkat untuk menginstal dan mengkonfigurasi sistem. Jadi, dari berbagai distro Linux biasanya akan mempunyai kernel yang sama. Yang berbeda adalah program aplikasi dan perangkat untuk mengkonfigurasinya.

Nah, setelah kita disodorkan beberapa fakta di tulisan sebelumnya, maka kita akan mulai menelaah kelebihan dan kekurangan Linux.

Kelebihan Linux

  1. Linux merupakan sistem operasi bebas dan terbuka. Sehingga dapat dikatakan, tidak terdapat biaya lisensi untuk membeli atau menggunakan Linux.
  2. Linux mudah digunakan. Dulu, Linux dikatakan merupakan sistem operasi yang sulit dan hanya dikhususkan untuk para hacker. Namun, kini, pandangan ini salah besar. Linux mudah digunakan dan dapat dikatakan hampir semudah menggunakan Windows.
  3. Dekstop Linux Edubuntu

    Gambar: Tampilan Dekstop Linux Edubuntu

  4. Hampir semua aplikasi yang terdapat di Windows, telah terdapat alternatifnya di Linux. Kita dapat mengakses situs web Open Source as Alternative untuk memperoleh informasi yang cukup berguna dan cukup lengkap tentang alternatif aplikasi Windows di Linux.
  5. Keamanan yang lebih unggul daripada Windows. Dapat dikatakan, hampir semua pengguna Windows pasti pernah terkena virus, spyware, trojan, adware, dsb. Hal ini, hampir tidak terjadi pada Linux. Di mana, Linux sejak awal didesain multi-user, yang mana bila virus menjangkiti user tertentu, akan sangat sangat sangat sulit menjangkiti dan menyebar ke user yang lain. Pada Windows, hal ini tidaklah terjadi. Sehingga bila dilihat dari sisi maintenance / perawatan data maupun perangkat keras-pun akan lebih efisien. Artikel yang menunjang argumen ini:
  6. Linux relatif stabil. Komputer yang dijalankan di atas sistem operasi UNIX sangat dikenal stabil berjalan tanpa henti. Linux, yang merupakan varian dari UNIX, juga mewarisi kestabilan ini. Jarang ditemui, komputer yang tiba-tiba hang dan harus menekan tombol Ctrl-Alt-Del atau Restart untuk mengakhiri kejadian tersebut. Sehingga, tidaklah mengherankan bila Linux mempunyai pangsa pasar server dunia yang cukup besar. Dari hasil riset IDC, pangsa pasar server dunia yang menggunakan Linux pada tahun 2008 akan mencapai 25,7 % (dapat dibaca di eweek.com).
  7. Linux mempunyai kompatibilitas ke belakang yang lebih baik (better backward-compatibilty). Perangkat keras (hardware) yang telah berusia lama, masih sangat berguna dan dapat dijalankan dengan baik di atas Linux. Komputer-komputer yang lama ini tidak perlu dibuang dan masih dapat digunakan untuk keperluan tertentu dengan menggunakan Linux (sebagai penunjang informasi dapat membaca artikel “Don’t Throw That Old PC Away–Give It New Life with Linux“). Selain itu, tidak pernah ditemui dokumen-dokumen yang lebih baru tidak dapat dibaca pada Linux versi yang lebih lama. Pada Windows, kita seakan dituntut untuk terus mengikuti perkembangan perangkat keras. Sebagai contoh, beberapa bulan lalu, telah dirilis Windows Vista. Beberapa dokumen yang dibuat dalam Windows Vista tidak dapat dibuka dalam Windows XP. Sehingga, mau tidak mau, kita harus beralih ke Windows Vista, dan itu berarti meng-upgrade atau membeli perangkat keras (hardware) baru yang lebih bagus (perangkat keras minimum Windows Vista dapat dilihat Microsoft.com). Atau, bisa jadi ada aplikasi-aplikasi yang dibuat beberapa tahun yang lalu tidak dapat dibuka lagi di Windows Vista, karena sudah tidak didukung lagi oleh Microsoft.

Kekurangan Linux

  1. Banyak pengguna yang belum terbiasa dengan Linux dan masih ‘Windows minded’. Hal ini dapat diatasi dengan pelatihan-pelatihan atau edukasi kepada pengguna agar mulai terbiasa dengan Linux.
  2. Dukungan perangkat keras dari vendor-vendor tertentu yang tidak terlalu baik pada Linux. Untuk mencari daftar perangkat keras yang didukung pada Linux, kita dapat melihatnya di Linux-Drivers.org atau LinuxHardware.org.
  3. Proses instalasi software / aplikasi yang tidak semudah di Windows. Instalasi software di Linux, akan menjadi lebih mudah bila terkoneksi ke internet atau bila mempunyai CD / DVD repository-nya. Bila tidak, maka kita harus men-download satu per satu package yang dibutuhkan beserta dependencies-nya.
  4. Bagi administrator sistem yang belum terbiasa dengan Unix-like (seperti Linux), maka mau tidak mau harus mempelajari hal ini. Sehingga syarat untuk menjadi administrator adalah manusia yang suka belajar hal-hal baru dan terus-menerus belajar.

Penutup
Linux telah hadir menjadi salah satu sistem operasi yang patut diperhitungkan. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Linux mampu menjadi salah satu alternatif pilihan untuk dunia pendidikan negara-negara berkembang seperti negara Indonesia tercinta ini.

Beberapa hari ini, aku sibuk menyiapkan tulisan tentang ‘Kelebihan dan Kekurangan Linux’. Di mana, tulisan ini dibuat atas permintaan salah satu pimpinan sekolah di mana aku mengajar. Dia meminta tulisan yang mencoba memaparkan kelebihan dan kekurangan Linux, yang membantunya dalam memutuskan penggunaan sistem komputer di sekolah kami. Sebagai orang yang belum mengenal jauh tentang Linux, aku mencoba untuk menulisnya sebaik yang aku bisa. Dan beberapa bagian dari tulisan ini diedit, agar dapat dibaca untuk khalayak yang lebih luas. Karenanya, aku sangat mengharapkan masukan dari rekan-rekan pembaca sekalian :-) .

Tulisan ini kubagi dalam 2 bagian. Yang pertama, aku mau bahas dulu apa itu Gerakan Open Source. Sebab, Linux yang merupakan sistem operasi terbuka, adalah bagian dari Gerakan Open Source. Dan bila ingin mengupas Linux, rasanya kurang afdol kalau tidak menyinggung tentang open souce. Yang kedua, aku masuk ke poin utama, yaitu kelebihan dan kekurangan Linux.

—000—

Gerakan Open Source
Dalam dunia perangkat lunak (software), gerakan Open Source mempunyai pandangan bahwa perangkat lunak haruslah bebas untuk digunakan untuk semua tujuan “yang berguna secara sosial”. Perangkat lunak yang sepadan dengan Open Source ini sering diasosiasikan sebagai “Perangkat Lunak Bebas” (Free Software). Ini berarti penggunanya tidak harus membayar untuk mendapatkannya, dapat digunakan sesuai dengan yang diinginkan, dan dapat didownload – diubah – diperbaiki – digunakan oleh siapapun (Keterangan lengkap filosofi dari perangkat lunak bebas dapat dilihat di Filosofi Free Software).Dengan filosofi tersebut, terdapat beberapa keuntungan yang diperoleh. Pertama, perangkat lunak bebas sering tersedia tanpa biaya. Kedua, ketika perangkat lunak ini dikembangkan oleh orang lain, hasil kerja pengembangan ini dapat digunakan kita. Di mana hal-hal ini tentunya tidak dapat dilakukan pada perangkat lunak tidak bebas.Maka, tidak terlalu mengagetkan bila perlahan tapi pasti, banyak negara yang menuju pada open source. Ada beberapa alasan yang membuat negara-negara melakukan hal seperti ini (argumen ini berdasar tulisan berjudul ‘Mengapa Memiliki Kebijakan Open Source‘):

  1. Faktor fleksibilitas, negara yang menerapkan open source dapat mengaudit kode program tanpa terhalang aturan lisensi / paten yang sangat membatasi.
  2. Faktor keamanan, negara yang menerapkan open source dapat meningkatkan keamanan pada kode program.
  3. Faktor ekonomi, negara yang menerapkan open source sangat menghemat anggaran pembelanjaan negara tersebut, sehingga devisa negara tidak terkuras habis.

Kita dapat melihat di internet, semakin hari semakin banyak negara yang menggunakan open source. Sebagai contoh kita dapat melihat pada artikel-artikel berikut:

  1. Asia ramai-ramai ke Open Source.
  2. Jepang menuju pada Open Source.
  3. Korea Selatan menuju pada Open Source.
  4. Venezuela dan Bolivia yang menjalankan Linux pada komputer-komputernya.
  5. Lebih dari setengah perusahaan-perusahaan di Jerman menggunakan perangkat lunak bebas.

Lalu, Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia sendiri, saat ini, semakin gencar menggunakan perangkat lunak bebas. Hal ini terbukti, saat pemerintah mencanangkan ‘IGOS‘ (Indonesia Go Open Source) sejak beberapa tahun lalu. Di dalam situs web-nya, kita dapat melihat rencana kerja, program kerja, proyek-proyek, dan berbagai hal yang berkaitan dengan usaha pemerintah untuk mengarah pada penggunaan perangkat lunak bebas.

Linux yang Mulai ‘Menggigit’
Linux sebagai sebuah sistem operasi terbuka (bagian dari fenomena gerakan open source) semakin hari semakin menarik perhatian pelaku teknologi informasi. Dari hari ke hari, institusi pendidikan dan pelaku bisnis semakin mengarah ke Linux.

Di internet, kita dapat melihat beberapa artikel yang mendukung pernyataan-pernyataan di atas:

  1. Penggunaan Linux yang semakin meluas dan bertumbuhnya penyedia jasa Linux / FOSS di Indonesia.
  2. Pesantren – pesantren di Indonesia yang mulai menerapkan Linux dan perangkat lunak bebas.
  3. Weblog yang memuat kisah-kisah sukses migrasi ke Linux di Indonesia.

Pilihanku pada Ubuntu

Sejak 3 minggu lalu, aku udah memutuskan untuk migrasi ke dunia Linux. Sebagai orang yang awam dengan Linux dan terbiasa dengan Windows, pilihan ini tentunya gak mudah. Beruntung, dengan adanya internet, aku dapat menemukan pemecahan-pemecahan masalah bila ada kesulitan yang kutemui.

Bagi orang yang hendak migrasi ke Linux, salah satu kebingungan pertama yang biasanya dihadapi adalah pilihan distro Linux yang hendak dipakai. Dan hal ini juga kualami. Dari banyaknya distro yang ada, akhirnya pilihanku tertuju pada Ubuntu (daftar lengkap distro Linux dapat dilihat di DistroWatch).

Pilihanku jatuh pada Ubuntu, bukan berarti bahwa distro Linux yang lain lebih jelek. Aku berkeyakinan, setiap distro Linux mempunyai segmen kebutuhan dan ciri khasnya masing-masing. Lantas, mengapa Ubuntu?

Beberapa point-point yang menjadi landasan pemilihanku pada Ubuntu adalah:
1. Dokumentasi dan support dari Ubuntu yang sangat baik (informasi ini kudapat dari Giest Blogs).
2. Ubuntu terpilih sebagai Linux Dekstop yang terpopuler tahun 2006 (sumber: ubuntu-id.org).
3. Komunitas Ubuntu yang aktif dan vibran.
4. Rilis yang reguler dan up-to-date.

Bisa jadi, pilihanku ini suatu saat berubah. Namun yang pasti, apapun distro Linux yang bakal dipilih, hatiku saat ini sedang tertambat pada Linux :-) .

Ayo nge-blog … !

Bisa jadi beberapa dari kita yang sedang membaca tulisan ini belum mengenal blog. Atau mungkin udah pernah mendengarnya, tapi gak begitu tahu apa yang dimaksud dengan blog. Nah, sebagai langkah awal, kita bisa mengorek informasi definisi dan sejarah kemunculannya di Wikipedia Indonesia dan Enda Nasution’s Weblog.

Lalu, kalau udah ada sedikit gambaran, kuharap yang belum nge-blog bisa mulai mencobanya. Untuk memulainya, perlu dipikirkan dan disiapkan terlebih dahulu blog jenis apa yang ingin dibuat, tujuan yang ingin dicapai dari pembuatan blog, dan semangat untuk memelihara kontinuitas blog yang nantinya telah dibuat. Tak lupa untuk mulai menimbang-nimbang perangkat blog yang nantinya akan dipakai. Kebetulan, ada link yang cukup menarik berkaitan dengan hal ini. Kita bisa membacanya di sini.

Ayo nge-blog!

Next Page »